Sabtu, 20 Desember 2008

Ungkapan cinta untukmu ibu

Kasih ibu.....

Kepada beta... tak terhingga sepanjang masa

Hanya memberi tak harap kembali

Bagaikan sang surya, Menyinari dunia....

Lagu inilah yang menjadi inspirasi saya untuk menulis artikel ini semoga bermanfaat buat kita semua.

Yah itulah salah satu syair lagu yang sering kita dengar pada saat kita masih anak-anak.

sebuah syair yang yang sering kita dengar dan kita nyanyikan pada saat kita duduk dibangku sekolah TK ataupun bangku Sekolah Dasar, Lagu ini sering kita nyayikan saat mata pelajaran kesenian. Dengan semangat dan penuh penghayatan kita menyayikan lagu ini.......

Itu saat kita masih kecil... Kini kita sudah dewasa, bahkan untuk menyayikan lagu ini kita enggan.... atau sekedar membayangkan bagaimana saat kita kecil menyanyikan lagu ini. Orang tua kita menceritakan bahwa kita sangat senang lagu ini.

Hingga orang tua kita berkata.... Wah nduk suaramu merdu sekali, dan lagunya juga sangat indah? lalu, dengan polosnyo kita menjawab " iya mbok, lagu ini kesukaan dedek... akukan sayang si mbok, makanya dedek sering nyayikan lagu ini ". Dengan penuh haru si mbok mendengarkan perkataan dan pengakuan kita yang masih anak-anak.

******

Sebuah syair yang sengaja diperuntukan kepada kaum wanita yaitu ibu....

Sehingga pada zaman rasullah ada seorang sahabat yang bertanya, Siapakah yang harus saya hormati? tanya sahabat. Lalu Rasulullah menjawab "Ibumu". Siapa lagi? Tanya sahabat, " Ibumu ". jawab rasulullah, Siapa lagi ya rasulullah tanya sahabat untuk yyang ketiga kalinya, Rasulullah tetap menjawab " Ibumu'. lalu sipa lagi ya Rasulullah? Baru untuk yang ke empat kali rasulullah menjawab " Bapakmu " .

Secara matematis kita bisa melihat vahwa perbandingannya adalah 3 ; 1, pantaslah rasulullah memberika penghormatan yang luar biasa terhadap seorang wanita yang bernama ibu. Dimana pada saat kita berada dalam kandungan 9 bulan 10 hari lamanya, ibu membawa kita kemana-mana, saat kekamar mandi, saat makan, saat tidur pun ibu tidak pernah mengeluh. KIta bisa bayangkan bagaiman letihnya ibu kita. saat ibu istirahat malam pun kita masih menggaanggunya tapi ibu tidak pernah mengeluh.

saat kita lahir pun kedunia ini, ibu masih memperhatikan kita ... tak dibiarkan seekor nyamuk untuk menggigit kita, kita hisap terus air susunya sampai kita berusia 2 tahun. Dengan Iklhas dah kesabaran seorang ibu, kita diasuh dan didiknya dengan penuh kasih dan seribu rasa cinta, ibu tidak pernah minta ganti rugu atas semua itu.

pantaslah Rasulullah mengatakan, sesungguhnya syurga itu dibawah telapa kaki ibu.

Tapi kini kita telah dewasa bahkan kita mungkin sekarang sudah berkeluarga. Sehingga kita bisa merasakan bagaimana menjadi seorang ibu!.

Pernah tidak terucap oleh bibir kita .... Ibu terimakasih atas didikanmu selama ini, dalam membesarkan nanda? hanya hati kita yang mampu menjawab pertanyaan ini.

*****

Ibu hanya untai do'a yang mampu kami berikan semoga apa yang engkau lakukan senantiasa dibalas oleh Allah SWT dengan ganjaran yang setimpal Amiinnnn

Ibu......

Setiap setiap kasih dan cintamu adalh sepanjang masa

Setiap perkataanmu bagaikan setetes embun penyejuk jiwa

Setiap senyumanmu bagaikan sang surya yang menyinari dunia

Setiap sentuhanmu adalah penenang jiwa

ibu.....

Cinta....

Kasih....

dan sayangmu takkan pernah kulupakan....

Anakmu hanya mampu menucapkan terimaksih atas semua kasih dan cintamu dan selamat hari ibu... kepada semua ibu yang ada didunia.

Ummi, Ibu, Bunda, Emak, Mbok, Amak, Inanga amak dan Mom....

Engkaulah pahlawanku.... Semoga Allah SWT melindungi dan memberi rahmat atas mu

Jumat, 19 Desember 2008

Selamat Hari Ibu

MumPung mAmA lo maSih aDa,
coba de, saat bEliaU tiduR...
saaT maTanya terPejam...
Lo taTap wajaHnya 5 menit aja...
g uSa lAma2...
cobA rasaiN de...
klO wajaH beliAu udA g da dsiTu...
Rasain lewat Hati lo...
yg paling dAlem...
Lakuin aPapuN yang bs lo lakuKan
unTuknya...

"SEKARANG"!!!
bukan 1jam lagi...
bukan 1hari lagi...
bukan 1bulan lagi...
tapi "SEKARANG"...

jangan tunggu sampe Beliau uda mo
ninggalin kehidupan kita...
penyesalan g dateng duluan
sahabat2ku...

there's a story about...
"BETAPA BESAR KASIH MAMA BUAT
KITA"

Seorang anak mencari Ibunya dan
mendapatkan ibunya sedang sibuk
menyediakan makan malam di dapur...
Kemudian dia mengulurkan tangannya dan
memberikan sehelai kertas yang sudah
ia
siapkan sehari sebelumnya...
Sang Ibu segera membersihkan tangan
lalu
menerima kertas yang diulurkan oleh
anaknya dan membacanya...

OngKos bantuin MAMA:
1) Bantu pergi ke warung : Rp
20.000,00
2) Jagain ade : Rp 20.000,00
3) Buang sampah : Rp 5.000,00
4) Beresin tempat tidur : Rp 10.000,00
5) Nyiram bunga : Rp 15.000,00
6) Nyapu halaman : Rp 15.000,00
Total: Rp 85.000,00

Selesai membaca kertas tersebut...
Sang Ibu hanya tersenyum memandang
anaknya...
Si Anak pun tersenyum penuh
kemenangan...
Lalu Sang Ibu mengambil pena dan
menulis
sesuatu dibelakang kertas yang sama...
1) OngKos mengandungmu selama 9bulan-
GRATIS
2) OngKos menyusuimu, anakku-GRATIS
3) OngKos berjaga malam karena
menjagamu-GRATIS
4) OngKos air mata yang menetes
karenamu-GRATIS
5) OngKos khawatir krn memikirkan
keadaanmu-GRATIS
6) OngKos menyediakan makan, minum,
pakaian dan keperluanmu-GRATIS
7) Keseluruhan Nilai Kasihku-GRATIS

Air mata Si Anak berlinang setelah
membaca...
Si Anak menatap wajah Ibunya,
memeluknya
dengan erat dan berbisik
sambil terisak di dekat telinga
Ibunya,

"AKU SAYANG SAMA MAMA...UDAH GA
ADA LAGI
YANG PERLU DIBAYAR OLEH MAMA...UDAH
LUNAS SEMUANYA...BUKAN MAMA YANG
HUTANG
SAMA AKU, TAPI AKU YANG UTANG SAMA
MAMA..."

kLo Lo SAYANG MAMA lo..
"FORWARD" de...
kirim msg ini ke semua orang..
biar mereka inget betapa mama berharga
banget dlm hidup mrk...

Catatan akhir tahun

bismillahirrahmanirrahim

perjalanan kehidupan anak manusia siapa yang tahu! semuanya telah digariskan dan ditetapkan oleh Allah SWT... dan ketetapan itu berlaku bagi siapa pun juga.. apakah muslim atau pun non muslim. Bagi kita yang muslim ... telah memahami bahwa apapun yang terjadi terhadap diri kita merupakan ketetapn dan ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT terhadap kita... dan itu menjadi kewajiban bagi kita untuk menerima ketentuan yang berlaku atas diri kita. KAdang ketentuan itu adalah ketentuan yangn baik maupun ketentuan yang buruk....

Tapi ....
kita lihat bagaimana perjalanan hidup kita pada tahun ini? apakah perjalanan ini telah membawa kita pada perubahan yang baik atau tidak... jika itu merupakan perubahan yang lebih baik maka kita termasuk orang yang beruntung. Jika, itu perubahan yang buruk makan kita termasuk orang yang merugi atau perubahan ini sama dengan tahun kemaren makan kita termasuk orang yang celaka. Maka di akhir tahun 2008 ini mari kita intropeksi diri kita .... apa yang telah kita lakukan dan yang telah kita perbuat? Apakah banyak perbuatan baik yang telah kita lakukan? atau Banyak perbuatan dosa yang kita perbuat? semua bisa kita jawab! tanyakan pada hati nurani kita ?
Wallahualam....

Akhir tahun, Des 2008

PUISI : FOR MOM 3

iBU

yah.. hari-hari telah kau lalai
pahit getirnya dunia tlah kau jalani...
manis dan pahitnya kehidupan telah kau lalai
sehingga garis-garis kehidupan tampak di dahimu

setiap keringat yang tlah terkucurkan dalam hidupmu
telah menjadi bukti....
bahwa kau mampu bertahan dalam mengarunginya
aku yakin ....
akan semua itu...
walau engkau tak pernah cerita kepadaku

yakinlah ibu...
keringatmu akan dibalas oleh Allah SWT
sebagai catatan kebaikan

Kamis, 18 Desember 2008

For Mom 2

Ibu bagi Anak Yatim

oleh Muhammad Rizqon Jumat, 19/12/2008 13:25 WIB

Seorang anak adalah ibarat kertas putih. Apa yang tergambar, sedikit banyak adalah pengaruh dari goresan orang tua atau lingkungannya di waktu kecil. Seorang anak yang dibesarkan di lingkungan yang kondusif, maka akan lahir darinya kepribadian yang baik. Sebaliknya jika dibesarkan dilingkungan yang buruk, maka akan lahir darinya kepribadian yang buruk. Setiap anak memiliki karakter khas yang merupakan hasil bentukan di masa kecil. Bisa berupa karakter yang baik, bisa juga berupa karakter yang kurang baik. Bisa berupa karakter yang sulit diubah, bisa juga karakter yang mudah sekali untuk diubah.

Karakter anak yang dibesarkan dengan sentuhan kasih seorang ibu, umumnya berbeda dengan karakter mereka yang tidak atau jarang mendapatkannya. Salah satu hikmah perintah Nabi Saw untuk menyayangi anak yatim, bisa dikaitkan dengan kondisi tersebut. Anak yatim adalah anak belum menemukan pijakan yang utuh tentang kepada siapa dia seharusnya menyandarkan kehidupan dan mengharapkan kasih sayang. Oleh karenanya, dia perlu dihibur, dikuatkan mentalnya, dan ditunjukkan kepada hakikat cinta dan kasih sayang yang bermuara kepada Allah SWT.

Anak yang tidak atau jarang mendapatkan sentuhan kasih sayang, adakalanya memiliki karakter yang kurang kondusif bagi sebuah kemajuan atau kesuksesan. Salah satu penyebabnya adalah karena telah terbentuknya zona aman (comfort zone) atas karakter yang telah tertanam pada dirinya sejak kecil itu. Sebagai misal persepsi anak tentang sabar. Telah tertanam dalam dirinya bahwa apa-apa yang dialaminya adalah bagian dari takdir Allah SWT yang harus diterima dengan sabar. Namun karena penanaman yang kurang tepat, kesabarannya itu tidak berbuah pada kegigihan/kemandirian dalam menjalani kehidupan. Dia mengidentikan sabar dengan pasrah atau nrimo yang berkonotasi pasif. Dan dia memiliki persepsi bahwa sabar itu hanya dilakukan di kala menerima musibah saja. Padahal kapan pun, baik di kala susah maupun senang, seorang hamba Allah dituntut untuk bersabar.

Namun apakah anak yang kurang mendapat sentuhan kasih sayang orang tuanya akan selalu tumbuh dengan kepribadian yang tidak mendorong pada kesuksesan? Data empiris menunjukkan tidaklah selalu demikian. Bahkan kita menyaksikan banyak anak yang tumbuh dengan belaian kasih sayang orang tua yang "berlebih", namun dia tumbuh dengan kepribadian yang labil.

Kehidupan Nabi Muhammad SAW yang terlahir yatim, yang 6 tahun kemudian ibu beliau wafat menyusul kepergian sang ayah, adalah kisah yang patut menjadi cerminan dan sumber motivasi. Beliau adalah sosok yang tidak banyak mendapat sentuhan dan belaian kasih sayang dari orang tuanya, namun demikian pribadi dan akhlak yang muncul dari diri beliau adalah pribadi indah yang mempesonakan. Tentu semua itu adalah karena kehendak dan bimbingan Allah SWT, yang dengan sifat ar Rahman dan ar RahimNya, mengungguli sentuhan dan kasih sayang seorang ibu yang terbaik sekalipun.

Oleh karenanya kehilangan seorang ibu, bukanlah akhir dari sebuah kehidupan. Meski terasa berat, kehilangan seorang ibu adalah bentuk ujian agar seseorang bisa menemukan sumber cinta dan kasih sayang yang sesungguhnya, yang tidak pernah lapuk, tidak pernah lekang, dan tidak terukur dan terbatasi oleh dimensi ruang dan waktu, yang abadi, dan tidak fana sebagaimana kasih sayang seorang ibu di dunia ini.

Kehadiran seorang ibu adalah wasilah dari cintaNya. Allah SWT berkehendak menunjukkan keagungan cintaNya, maka diutuslah seorang ibu. Seorang ibu yang memahami akan esensi ini, maka ia merasa bahwa kehadirannya adalah amanah dariNya, sehingga ia berusaha mencurahkan kasih sayang kepada anak-anaknya sesuai dengan petunjuk-petunjuk yang diberikanNya. Dia tidak akan pernah mengharapkan imbal jasa, pamrih, atau menuntut balas. Dia tidak ingin disanjung dan dipuji karena pemilik segala puji hanyalah Allah yang menurunkan sifat rahman dan rahimNya itu.

Bagi kita selaku seorang anak, kewajiban kita adalah mencurahkan bakti dan taat secara benar sesuai petunjuk-petunjuk yang diberikanNya demi mengharap ridhaNya. Karena ridha Allah adalah ridha orangtuanya. Dan kewajiban berbakti itu, adalah kewajiban yang melintasi batas waktu, tidak berarti selesai ketika ibu kita meninggalkan dunia.

Ada kisah menarik yang bisa menjadi cerminan. Ketika Rasulullah Saw wafat, sahabat Umar begitu sangat amat terpukul. Pijakannya hampir hilang ketika menyaksikan fakta bahwa sahabat dan pemimpin ummat yang amat sangat dikasihinya itu meninggal dunia. Dengan perasaan penuh guncangan emosi sambil menghunuskan pedang, beliau mengatakan, “Barang siapa yang mengatakan bahwa Muhammad telah wafat, akan aku penggal batang lehernya!”.

Untunglah, ditengah kondisi yang serba panik itu, tampillah Abu Bakar Asshiddiq menenangkan gunjangan jiwa kaum muslimin dengan membacakan firmanNya, “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS 3: 144).

Kemudian beliau berpidato, “Barang siapa yang menyembah Muhammad, ketahuilah bahwa Muhammad telah wafat. Barang siapa yang menyembah Allah, maka Allah selalu hidup dan tidak pernah wafat.

Pedang yang berada di genggaman tangan Umar perlahan-lahan mengendur kemudian jatuh. Jiwa kaum muslimin yang semula bergejolak panas berangsur-angsur mendingin. Semuanya tertunduk haru. Nada tangis yang semula meraung-raung menunjukkan ketidakridhaan atas fakta yang terjadi, berubah menjadi tangis isak yang tiada henti dengan kucuran air mata. Bertahun-tahun mereka bergaul dengan Rasulullah Saw, seakan baru kali inilah mereka menyadari bahwa Rasulullah Saw tidak lain adalah manusia seperti diri mereka yang bisa wafat kapan saja bila Allah SWT menghendaki.

Ya, siapapun yang menyembah manusia, meski sekaliber Muhammad Saw, maka ia pasti wafat. Pesona seorang ibu tidaklah melebihi pesona Muhammad Saw, kewajiban kita kepada seorang ibu tidaklah melebihi kewajiban kita kepada Rasululllah Saw. Maka, kematian seorang ibu janganlah menjadikan kita terguncang.

Boleh jadi kita bisa menerima hal ini. Bagaimana bila yang mengalaminya adalah anak-anak kecil yang masih membutuhkan bimbingan dan kasih sayang? Inilah teguran bagi kita untuk selalu memperhatikan anak-anak yatim. Memberi cinta sebagaimana kita merasakan cinta. Memberi kasih sayang sebagaimana kita menerima kasih sayang. Dan memberi mereka fondasi kesuksesan sebagaimana kita menerima kesuksesan.

Ajakan Nabi Saw untuk memuliakan anak yatim adalah ajakan agar kita menjadi “ibu” bagi mereka. Kita bimbing mereka agar mereka mengenal “ibu” yang sebenarnya, ibu dari segala ibu, yakni Allah SWT.

Wallahua’lam bishshawaab
rizqon_ak@eramuslim.com

muhammadrizqon.multiply.com

Rabu, 17 Desember 2008

F0R M0M

Persembahan Terbaik Untuk Ibu

oleh Muhammad Rizqon Rabu, 17/12/2008 08:06 WIB Cetak | Kirim | RSS

Seorang anak adalah ibarat kertas putih. Apa yang tergambar, sedikit banyak adalah pengaruh dari goresan orang tua atau lingkungannya di waktu kecil. Seorang anak yang dibesarkan di lingkungan yang kondusif, maka akan lahir darinya kepribadian yang baik. Sebaliknya jika dibesarkan di lingkungan yang buruk, maka akan lahir darinya kepribadian yang buruk.

Karakter anak yang dibesarkan tanpa sentuhan kasih orang tua (ibu dan ayah) di waktu kecil, umumnya berbeda dengan karakter mereka yang mendapatkannya. Inilah mungkin hikmahnya Nabi Saw memerintahkan kita untuk menyayangi anak yatim. Mereka belum menemukan pijakan yang utuh tentang kepada siapa dia seharusnya menyandarkan kehidupan dan mengharapkan bimbingan. Oleh karenanya, mereka perlu dihibur dan dikuatkan mentalnya. Lebih-lebih bagi mereka yang yatim dan piatu, disamping kehilangan figur ayah yang mampu memimpin kehidupannya, dia juga kehilangan figur ibu yang mampu memberikan belaian kasih sayang. Oleh karenanya, mereka perlu dibimbing kepada penemuan cinta dan kasih sayang yang sejati, yakni cinta dan kasih sayang Allah SWT.

Anak yang tidak atau jarang mendapatkan sentuhan kasih sayang, adakalanya memiliki karakter yang kurang kondusif bagi sebuah kemajuan atau kesuksesan. Salah satu penyebabnya adalah karena telah terbentuknya zona aman (comfort zone) atas karakter yang telah tertanam pada dirinya sejak kecil itu. Sebagai contoh kecil yakni masalah persepsi anak tentang sabar. Bagi anak-anak tertentu, telah tertanam dalam dirinya bahwa apa-apa yang dialaminya adalah bagian dari takdir Allah SWT yang harus diterima dengan sabar. Namun karena penanaman yang kurang tepat, kesabarannya itu tidak membuahkan kegigihan/kemandirian dalam menjalani kehidupan. Dia mengidentikan sabar dengan pasrah atau nrimo yang berkonotasi pasif. Dan dia memiliki persepsi bahwa sabar itu hanya dilakukan di kala menerima musibah saja. Padahal kapan pun, baik di kala susah maupun senang, seorang hamba Allah dituntut untuk senantiasa bersabar.

Namun apakah anak yang kurang mendapat sentuhan kasih sayang orang tuanya akan selalu tumbuh dengan kepribadian yang bermasalah? Data empiris menunjukkan tidaklah selalu demikian. Bahkan kita menyaksikan banyak anak yang tumbuh dengan “kasih sayang” yang “berlebih” dari orang tua mereka, namun mereka tumbuh dengan kepribadian yang labil.

Kisah Nabi Muhammad SAW yang terlahir yatim, yang 6 tahun kemudian menjadi piatu, adalah kisah yang patut menjadi cerminan dan sumber motivasi. Beliau adalah sosok yang tidak banyak mendapat sentuhan dan belaian kasih sayang dari orang tuanya, namun demikian pribadi dan akhlak yang muncul dari diri beliau adalah akhlak dan pribadi indah yang mempesonakan. Tentu semua itu adalah karena kehendak dan bimbingan Allah SWT, yang dengan sifat ar Rahman dan ar RahimNya, mengungguli segala sentuhan kasih sayang seorang ibu atau bimbingan seorang ayah yang terbaik sekalipun.

Kehilangan mereka, bukanlah akhir dari sebuah kehidupan. Meski terasa berat pada awalnya, kehilangan seorang ayah adalah bentuk ujian agar seseorang menemukan pembimbing yang sejati, dan kehilangan seorang ibu adalah bentuk ujian agar seseorang bisa menemukan sumber cinta dan kasih sayang yang hakiki, yang tidak pernah lapuk, tidak pernah lekang, dan tidak terukur dan terbatasi oleh dimensi ruang dan waktu.

Kehadiran orang tua adalah wasilah dari cintaNya. Allah SWT berkehendak menunjukkan keagungan petunjukNya, maka diutuslah seorang ayah. Allah SWT berkehendak menunjukkan kemuliaan cintaNya, maka diutuslah seorang ibu. Seorang ayah/ibu yang memahami akan esensi ini, maka mereka akan merasa bahwa kehadiran mereka adalah semata-mata amanah dariNya, sehingga ia berusaha mencurahkan bimbingan, pimpinan, cinta, dan kasih sayang kepada anak-anaknya sesuai dengan petunjuk yang diberikanNya.

Selaku seorang anak, kewajiban kita adalah mencurahkan bakti dan taat secara benar sesuai petunjukNya demi mengharap ridhaNya. Karena ridha Allah adalah ridha orang tua. Dan kewajiban berbakti itu, adalah kewajiban yang melintasi batas ruang dan waktu, tidak berarti selesai ketika orang tua kita meninggalkan dunia.

Ada kisah menarik yang patut menjadi pelajaran. Ketika Rasulullah Saw wafat, sahabat Umar begitu sangat amat terpukul. Pijakannya hampir hilang ketika menghadapi fakta bahwa sahabat dan pemimpin ummat yang amat sangat dikasihinya itu meninggal dunia. Dengan perasaan penuh guncangan emosi sambil menghunuskan pedang, beliau mengatakan, “Barang siapa yang mengatakan bahwa Muhammad telah wafat, akan aku penggal lehernya!”.

Untunglah, ditengah kondisi yang serba panik itu, tampillah Abu Bakar Asshiddiq menenangkan gunjangan jiwa kaum muslimin dengan membacakan firmanNya, “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS 3: 144). Kemudian beliau berpidato, “Barang siapa yang menyembah Muhammad, ketahuilah bahwa Muhammad telah wafat. Barang siapa yang menyembah Allah, maka Allah selalu hidup dan tidak pernah wafat.

Pedang yang berada di genggaman tangan Umar perlahan-lahan mengendur kemudian jatuh. Jiwa kaum muslimin yang semula bergejolak panas berangsur-angsur mendingin. Semuanya tertunduk haru. Nada tangis yang semula meraung-raung menunjukkan ketidakridhaan, berubah menjadi tangis isak yang tiada henti dengan kucuran air mata. Bertahun-tahun mereka bergaul dengan Rasulullah Saw, seakan baru kali inilah mereka menyadari bahwa Rasulullah Saw tidak lain adalah manusia seperti diri mereka yang bisa wafat kapan saja bila Allah SWT menghendaki.

Ya, siapapun yang menyembah manusia, meski sekaliber Muhammad Saw, maka ia pasti wafat. Pesona seorang ibu/ayah tidaklah melebihi pesona Rasulullah Saw, kewajiban kita kepada seorang ibu/ayah juga tidaklah melebihi kewajiban kita kepada Rasululllah Saw. Maka, kematian seorang ibu/ayah hendaknya tidak menjadikan hati seorang hamba terguncang dan hilang keseimbangan arah.

Jika mereka pergi tatkala anak sudah dewasa, boleh jadi kita bisa memakluminya. Lantas bagaimana bila mereka pergi (meninggal dunia) tatkala anak masih kecil dan sangat membutuhkan bimbingan dan kasih sayang?

Inilah teguran bagi kita untuk selalu memperhatikan mereka. Memberikan bimbingan sebagaimana kita mendapatkan bimbingan. Memberi cinta sebagaimana kita merasakan cinta. Memberi kasih sayang sebagaimana kita menerima kasih sayang. Dan memberi mereka fondasi kesuksesan sebagaimana kita menerima kesuksesan.

Menjelang hari ibu, berjuta kata indah telah terekspresikan untuk kemuliaannya. Bagi saya, ingatan akan ibu ini bermakna dua hal, yakni pertama, memperkokoh kepedulian bagi mereka yang tidak mendapat sentuhan bimbingan, cinta, dan kasih sayang seorang ibu. Kedua, memperkokoh kebaktian kepada seorang ibu, yang telah melahirkan dan membesarkan kita.

Apa wujud kebaktian yang pantas kita persembahkan buat ibu? Sesungguhnya yang diharapkan oleh seorang ibu dari anaknya adalah kesholehan darinya. Sebab dengan wasilah anak yang sholeh ini, maka sang ibu Insya Allah akan mendapatkan pembalasan atas jerih payahnya di dunia dengan memasuki surgaNya.

Setiap kita tentu merindukan pertemuan dengan ibu atau ayah kita kelak di surga, termasuk diri saya yang telah kehilangan ibu ketika berusia sekitar 4 tahun. Jika kita memang mencinta ibu kita, maka tidak ada upaya lain selain kita berusaha menjadi hamba Allah yang sholeh. Inilah persembahan terbaik kita untuk ibu, bukan persembahan berujud dunia atau kebendaan. Semoga Allah SWT membimbing langkah-langkah kita untuk menjadi hamba-hambaNya yang sholeh. Amin.

Wallahua’lam bishshawaab
rizqon_ak@eramuslim.com

muhammadrizqon.multiply.com

history

Kisah Anak Berbakti, untuk Ibunya Yang "Gila"


Friday, 31 October 2008 09:54

Ia berkeliling untuk mempertunjukkan kemampuannya menarik kereta dan makan sambil jungkir balik. Namun kemampuannya itu hanya satu, menyenangkan ibunya yang "gila"

Hidayatullah.com-- Namanya Liu Tianquan dari Pu Yang, Tiongkok. Setiap hari, pekerjaannya adalah menarik perhatian dan menghibur orang. Menarik kereta, makan dengan jungkir balik, pekerjaan yang dikaloninya semenjak dia masih berusia 5 tahun. Sampai sekarang, usianya sudah 31 tahun. Ia ingin memanfaatkan kemampuan khususnya ini untuk mencari pekerjaan guna menghidupi keluarganya. Terutama untuk menghibur ibunya yang mengalami gangguan kejiwaan.

Suatu hari, Liu Tianquan baru pulang bekerja dari Zhen Zhou ke kampung halamannya. Dengan tergesa-gesa berangkat ke rumah kakak sulungnya yang berjarak kira-kira 300 meter. Setelah selesai mempertunjukkan makan mantou dan mengenakan sweater sambil jungkir balik, tak tertahan lagi sang ibu mulai tertawa.

"Kamu koq memperagakan lagi jungkir balik! Sejak kecil kamu sangat lincah, kalau kamu yang memperagakan aku tidak khawatir, tempo hari kakak sulungmu juga mau ikut-ikutan, apapun yang dikata, aku tidak mengizinkannya, kalau lehernya patah bagaimana?"

Zhao Caiqin, sang ibu yang berusia 72 tahun, gangguan jiwanya baru kambuh, wajahnya tanpa perasaan, tidak mau makan, menggumam tiada hentinya, dengan cepat telah pulih menjadi normal, pembicaraannya juga sudah normal. Demikian dikutip Orient Today.

Ayahnya mengatakan, "Anak saya yang ke-4 (Liu Tianquan), sangat berbakti. Dalam cuaca yang sangat dingin seperti ini, masih datang mencuci pakaian sang ibu. Beberapa waktu yang lalu di rumah kekurangan air, dia membawakan air dari rumahnya."

Menyenangkan Hati Ibu

Liu Tianquan saat berusia 36 tahun menceritakan kenangannya. Pada usia 5 tahun, sang ibu yang berperasaan halus menjadi sakit karena depresi, jiwanya terganggu, sering marah-marah, membanting-banting mangkuk dan panci. Pada saat sangat parah, dia bahkan dapat membacokkan pisau masak sekenanya. Saat melihat ibunda yang biasanya penuh kasih menjadi seperti ini dia sangat bersedih.

Pada suatu kali ketika ibunya kambuh lagi, secara kebetulan me-lihat dia sedang berdiri jungkir balik, tiba-tiba menjadi geli dan tertawa dengan sangat gembira. Setelah itu setiap kali melihat dia jungkir balik sang ibu menjadi sangat bersuka cita sampai-sampai berjoget.

Melihat ibunda bergembira, Liu Tianquan juga sangat girang, sehingga berlatih dengan lebih te-kun. Melihat sang ibu makan mantou, dia akan makan dengan berdiri jungkir balik, dia pernah tersedak sampai sulit bernafas. Melihat sang ibu merajut baju wol, dia sambil jungkir balik akan membantu menggulung benang wol. Pada saat berusia 8 tahun dia sudah dapat mengenakan pakaian sambil jungkir balik; pada usia 15 tahun dapat mengangkat timba air sambil jungkir balik ……

Selama 31 tahun berlatih jungkir balik, Liu Tianquan selalu mengusahakan agar sang ibu bergembira dengan berbagai cara, sehingga gangguan jiwa sang ibu sangat berkurang. Ketika kondisi jiwa sang ibu normal, beliau tidak membiarkan Liu Tianquan jungkir balik, dia sangat menyayangi putranya itu, "Nak, kamu jangan berdiri jungkir balik lagi, kalau lehermu patah bagaimana? Kamu makan sambil berjungkir balik kalau tersedak bagaimana?"

Keahlian Khusus

Tahun baru, Liu Tianquan yang tidak punya uang membeli kado untuk anak-anak, akan mempertunjukan menarik kereta sambil jungkir balik.

Di rumah, Anak-anak menaiki kereta dorong dari kayu, Liu Tianquan akan mengikat pendorong kereta dengan tali. Kemudian dia jungkir balik di atas kursi di samping dinding. Sepasang tangannya akan menarik tali yang diikatkan pada kereta maka kereta dengan stabil bergerak maju. Tetangga yang datang melihat keramaian bertanya kepada Liu Tianquan, "Apakah Anda merasa tidak nyaman? Apakah terdapat perbedaan dengan menarik kereta secara normal?"

Liu Tianquan sambil tertawa menjawab, "Sangat santai, sama sekali tidak ada perbedaan." Kemudian dia mempertunjukkan makan sambil berjungkir balik dan lain-lain. Anak-anak sangat bergembira sampai berjingkrak-jingkrak.

Liu Tianquan pernah belajar menata rambut, ilmu pijat urut, namun tidak ada yang membuatnya lebih bersukacita ataupun merasa "tiada duanya" daripada berlatih jungkir balik. Pada musim senggang bercocok tanam, dia ingin mencari kerja dengan kemampuan khususnya untuk menghidupi keluarga.

Kadang kala, ia ikut dalam pertunjukan akrobat, setiap bulannya menghasilkan beberapa ratus yuan. Dia dianggap terlalu jujur oleh seorang temannya.

"Sudah disepakati dalam satu kali pertunjukan dilakukan dua jenis atraksi berdiri jungkir balik, namun tepuk tangan penonton ataupun pujian panitia kadang-kadang membuat Liu Tianquan mempertunjukkan beberapa atrak-si ekstra."

Kemampuannya ini tidak mendatangkan penghasilan lebih banyak bagi Liu Tianquan, dia senang menghibur orang-orang sekelilingnya dengan jungkir balik. Katanya, "Aspirasi saya yang terbesar adalah menghidupi diri sendiri dengan jungkir balik, orang lain gembira, saya pun gembira."

Anak Berbakti

Setelah kisah Liu Tianquan muncul dalam media, membuat banyak orang Tionghoa merasa terharu. Sungguh sulit ditemukan pada zaman masyarakat materialis seperti sekarang ini. Ada teman-teman dunia maya (internet) mengatakan, "Pada zaman dahulu ada seorang bernama Lao Laizi. Meskipun sudah berusia di atas 70 tahun, masih sering berupaya menyenangkan ibunda yang sudah berusia 90 tahun lebih, dengan mengenakan pakaian warna-warni berdandan menyerupai masa kecilnya, bercanda di depan ibunda agar sang ibu tertawa."

"Lao Laizi Menghibur Ibunda" merupakan sebuah cerita yang sangat terkenal pada zaman dahulu, merupakan salah satu dari "Dua Puluh Empat Cara Berbakti", beberapa puluh tahun terakhir ini sudah tidak ada orang yang mengungkitnya lagi. Tak terduga hari ini masih hidup seorang Lao Laizi! Sungguh merupakan sebuah keajaiban!

Ada teman-teman dunia maya yang memberikan pujian penuh kekaguman, "Anda adalah orang biasa yang sangat luar biasa, membuat kami gembira, kagum dan terharu, Anda telah memenuhi karakter moralitas anak berbakti budaya Tionghoa dengan tindakan nyata. Di dunia manusia memang ada perasaan yang tulus, perasaan yang tulus hanya ada di antara masyarakat manusia biasa!"

"Siapa yang mengatakan rasa bakti seorang anak (yang hanya setinggi rumput kecil) dapat membalas budi maha besar sang ibu (yang bagaikan mentari musim semi). Seekor kambing pun berlutut pada induk yang menyusuinya, seekor burung gagak pun setelah dewasa akan membagikan makanan pada induknya, apalagi manusia." [TET/erabaru/www.hidayatullah.com]